Dosen Teknik Mesin Unila Latih Peternak Produksi Pakan Pelet Dari Onggok Dan Dedak

Sejumlah Dosen Teknik Universitas Lampung (Unila) bersama-sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Univeritas Lampung mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan berupa pelatihan memproduksi pakan ternak sapi berupa pelet dari bahan utama onggok (limbah singkong) bagi para peternak sapi di Desa Krawang Sari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Tim dosen yang terdiri dari Dr. Gusri Akhyar Ibrahim, ST., MT., Dr. Ir. Lusmelia Afriani, DEA, Ir. Arinal Hamni dan Miftahul Huda, ST. MT. melakukan pengenalan dan pelatihan pembuatan pakan ternak sapi dari campuran onggok, bungkil sawit, dedak dan molasis. Pencetakan pakan agar menjadi berupa butiran pellet dilakukan menggunakan mesin cetak ekstruder. Metode ini dilakukan sebagai alternatif bagi peternak untuk menyedia pakan pellet, dimana sebagian besar para peternak menyedia pakan pellet dengan cara dibeli kepada penyuplai. Dan juga hal ini sebagai usaha memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia di sekitaran lokasi peternak untik dijadikan makanan ternak.

Ketua tim kegiatan pelatihan ini adalah dosen Teknik Mesin Unila, Dr. Gusri Akhyar Ibrahim, ST., MT. menjelaskan bahwa pembuatan pakan ternak yang dicetak akan lebih mudah dikonsumsi oleh sapi dengan jumlah yang jumlah yang lebih banyak bila dibandingkan dengan pakan tanpa dicetak. Pakan yang dicetak sudah dalam bentuk pellet (gumpalan padat) dikeringkan agar tidak mudah pecah, sehingga akan mudah ditelan oleh sapi.  Jika pellet dalam keadaan kering dimakan sapi, maka sapi akan memerlukan air untuk pencernahnya. Pakan dalam bentuk pellet kering tahan lama jika disimpan dalam beberapa hari sehingga peternak dapat menyedia stok pakan untuk jangka waktu yang lama.

Ada 10 orang peternak sapi yang dilatih membuat pakan berupa pellet menggunakan mesin cetak pellet tipe ekstruder. Setiap peternak memiliki 4 – 10 ekor sapi, dimana sebagian dari mereka menggunakan pakan fermentasi tanpa dicetak, sebagian lagi mengandalkan pakan hijauan, sehingga tidak tahan lama. Keuntungan pakan pellet kering dapat disimpan untuk persedian makan sapi tanpa harus menyedia rumput setiap hari.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong para peternak sapi untuk memanfaatkan limbah yang ada disekitar daerah mereka untuk dijadikan pakan ternak. Saat ini onggok tidak sulit untuk mendapatkannya demikian juga dengan dedak yang memang ada disekitar tempat mereka. Dengan memanfaatkan bahan baku limbah disekitar, akan dapat mengurangi biaya untuk pembelian pakan atau mengurangi penyiapan pakan hijaun. Ada banyak potensi pakan yang juga tersedia di kawasan tersebut yang selama ini belum diolah. Batang jagung kering, bonggol jagung, jengjet jagung dan kulit singkong adalah bahan baku yang banyak tersedia. Diharapkan ke depan potensi ini dapat diolah oleh masyarakat peternak untuk menjadi bahan pakan. Karena ini akan mengurangi biaya pakan dan memanfaatkan potensi lokal.

Pencetakan pakan pellet dibuat menggunakan mesin cetak ekstruder, dimana mesin ini adalah rancangan Dosen Teknik Mesin Unila sendiri, Bahan baku berupa onggok, bungkil sawit, dedak dan molasis dicampurkan di dalam bak pencampur (mixer) hingga rata. Diperlukan waktu sekitar 5 menit untuk mencapur secara rata, kemudian bahan dialirkan ke ekstruder. Ektruder akan mendorong bahan menuju lobang cetakan sambil memanaskan agar terjadi ikatan antar bahan. Mesin ini mampu mencetak pellet 80 kg perjam.

Kegiatan ini diharapkan para peternak dapat membuat pakan dengan memperhatikan komposisi pakan yang standar, memnuhi kebutuhan protein untuk pengemukan sapi. Kemudian peserta diharapkan juga memahami bila menggunakan pakan yang cetak berupa pellet akan dikonsumsi oleh sapi lebih mudah dan lebih banyak yang mampu dimakan sapi. Selain itu, para peternak termotivasi untuk menggunakan pakan yang diproduksi sendiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia di sekitar mereka.

(Gai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *