Berdayakan Pemuda Kreatif Wonokriyo dengan Teknologi Tepat Guna

Sebagai perpanjangan tangan Universitas Lampung, Dosen Teknik Mesin meningkatkan kreativitas kelompok pemuda di Dusun Wonokriyo Desa Wonodadi Pringsewu melalui bantuan teknologi tepat guna. Mesin Pengolahan batok kelapa, yang berfungsi sebagai membersihkan serabut, memotong batok kelapa dan melicinkan permukaan batok kelapa dalam waktu bersamaan. Batok kelapa yang dianggap sebagai limbah, ditingkatkan nilai tambahnya dengan menjadikan batok sebagai asesoris atau kerajinan tangan, dimana sebagian besar dijadikan sebagai gantungan kunci, cangkir minum, baki, teko dan wadah makanan lainnya.

Dr. Gusri Akhyar Ibrahim, ST., MT., selaku ketua kegiatan Pengabdian kepada masyarakat menjelaskan bahwa bahan limbah seperti batok kelapa akan bernilai tambah, jikalau diberikan sentuhan kretivitas nilai seni. Ia ditemani oleh anggota tim kegiatan Dr. Lusmelia Afriani, DEA, Ir. Arinal Hamni dan Ridho Aulia, ST. MT.,  mengatakan bahwa, jika nilai kreativ ditunjang oleh teknologi tepat guna, maka akan mempercepat pengerjaan. Selain itu juga enghasilkan produk yang lebih baik, lebih rapi, dan menimbulkan daya tarik yang tinggi. Sebagai contoh, pada awalnya, pemotongan batok kelapa dilakukan menggunakan gergaji tangan, sekarang dilakukan pemotongan gergaji yang digerakan oleh motor listrik, maka dapat dipastikan jumlah yang dihasilkan akan lebih banyak dan kualitasya juga lebih baik.

Dikatakan oleh ketua tim kegiatan Dr. Gusri Akhyar Ibrahim, ST., MT, kelompok pemuda yang terdiri dari 6 orang, di bawah binaan Bapak Sofian, telah sejak beberapa waktu lalu membuat kerajinan dari batok kelapa. Sebagian besar yang mereka buat adalah berupa asesoris yang dipesan oleh konsumen untuk keperluan hajatan kenduri atau acara pariwisata. Akan tetapi kelompok pemuda yang diketua oleh Sdr Makmun ini, kesulitan untuk memproduksi secara masal, karena terbatas dengan alat yang digunakan. Selama ini untuk pemotongan digunakan gerinda tangan, sedangkan untuk polesan digunakan gerinda yang ditambahkan kertas poles. Nah melihat yang demikian, Kami dari Universitas Lampung mendapatkan informasi dari salah seorang anggotanya, kalau mereka perlu pembinaan melalui introduksi teknologi tepat guna.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai oleh Lembaga Penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung, maka diajukan proposal pemberdayaan kelompok kreatif dan produktif berbasiskan potensi lokal. Melalui kerjsama yang baik dengan Jurusan Teknik Mesin Universitas Lampung, dibuatkanlah alat pengolahan batok kelapa untuk produksi asesoris kerajinan tangan. Mesin yang dibuat lebih sederhana dan lebih efektif karena mesin potong, mesin poles dan mesin pembuang serabut digerakan oleh satu motor dengan daya 1 hp. Hanya dengan daya motor 370 watt, tiga jenis pekerjaan utama sudah bisa dilakukan.  Untuk membuang serabut digunakan sikat besi dengan merode berputar sedangkan untuk meotong batok kelapa digunakan gergaji circle sehingga hanya dengan mendorong batok kelapa kearah mata pisau, maka dengan sendirinya akan terpotong. 

Sebagaimana dinyatakan oleh salah seorang anggota kelompok yaitu Bapak Mei, kami merasa sangat terbantu dengan adanya alat ini, karena biasanya kami memotong batok kelapa menggunakan mesin gerinda tangan. Kalau menggunakan gerinda tangan, hasilnya kurang baik, dan juga menimbulkan rasa capek yang berlebihan. Sedangkan dengan menggunakan alat ini, hanya dengan mendorong batok kelapa kearah mata gergaji. Dan baiknya lagi alat ini 3 in 1, yaitu dengan satu mesin dapat melakukan pekerjaan tiga macam secara bersamaan.  Memotong batok kelapa, membuang serabut dan menghaluskan permukaan batok dapat dilakukan secara bersamaan tampa harus mengganti-ganti motor. Kegiatan ini diharapkan dapat memicu kelompok pemuda “oemah kreatif” untuk meningkatkan aktifitas dan kreatifnya, dalam hal memproduksi produk-produk asesoris batok kelapa. Kalau selama ini, sebagian besar hanya berdasarkan permintaan, di waktu yang akan datang bisa memproduksi untuk dijual ke tempat-tempat wisata di Pringsewu. Dengan adanya alat ini dapat memperbaiki hasil pekerjaan, lebih menarik dan lebih bernilai seni. Pada waktu bersamaan tim dari Universitas Lampung lansung memesan 25 buah cangkir dari batok kelapa. Dengan demikian akan bertambah semangat kelompok Oemah kreatif untuk memproduksi lebih banyak. Ketua tim yaitu Pak Gusri juga menyatakan, jika diperlukan teknologi untuk mengembangkan usaha pemberdayaan, maka kami dari Universitas Lampung, dengan senang hati untuk bekersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *